Pembelajaran inovatif dan menyenangkan tidak hanya kita temukan dalam bangku sekolah maupun perkuliahan namun hampir keseluruhan aktivitas dalam belajar membutuhkan daya kreatifitas dalam penyampaian dan pemberian pesan. Salah satunya adalah metode belajar di kampung Inggris Pare kediri yang memiliki pendekatan dan metode dalam memberikan keleluasaan siswa dalam berkembang  



Seperti video yang satu ini yang dibawakan oleh saudari Tudrikha Akhila salah satu metode belajar dengan cara reporting.

Seminar gratis? Wah siapa yang tidak mau? Hehe Bagi mahasiswa memang belajar tidak hanya ditemukan dalam satu arah atau duduk dibangku selama kuliah dan tatap muka dengan dosen tetapi pembelajaran juga ditemukan dalam pengembangan diri mahasiswa yang dapat dilihat hampir dikeseluruhan dinamika kampus seperti kegiatan kemahasiswaan, organisasi, Praktik lapangan, kuliah umum, dan seminar. Bagi mahasiswa mengikuti seminar merupakan kegiatan dalam menambah materi perkuliahan maupun pengembangan diri yang baik. Ini dilihat dari berbagai macam seminar dan cara pengemasan yang ditampilkan seperti Talk Show, jumpa tokoh, seminar nasional bahkan internasional. Pembicara yang hadir dalam seminar adalah mereka yang ahli dalam bidang keilmuan maupun praktisi yang sudah memiliki pengalaman yang memadai. Hari ini 5 april diselenggaran seminar dengan teman “ managing self to be sucsessful leader in business career and life” oleh Fakultas Teknik Unnes bekerja sama dengan Prasetya mulya business School, dalam kesempatan ini hadir Dr Eka Ardianto dan  beberapa pengajar PMBS. 

Selain Seminar PMBS juga mempromosikan program Bizcamp Graduate Scholarship Competition? Apa ini? Seminar hari terdiri dari tiga sesi diantaranya Pengenalan program dan PMBS, Multistakeholder Based leadership, dan meraih karir dan mimpi mengunakan teknik coaching.

Registrasi Peserta
Okay berikut ini merupakan pemaparan hasil seminar. Sesi pertama diawali dengan presentasi prasetya mulya bizcamp graduate scholarship competition yang merupakan kegiatan tahunan PMBS dalam memberikan fasilitas kepada anak muda dalam mengembangkan karir di bidang business melalui beasiswa S2 full study di PMBS. Kegiatan ini terbuka untuk mahasiswa dengan latar belakang studi yang berbeda-beda seperti yang sudah dilaksanakan tahun lalu pemateri memberikan cuplikan pemennang Bizcamp yang merupakan mahasiswa biokimia dan perikanan IPB serta Gizi UI.

Sesi kedua yang merupakan materi interaktif yaitu tentang multi stakeholder based leadership. Kemampuan kepemimpinan ini tidak hanya menitik beratkan pada bagaimana puzzel bisnis yang berbentuk profit terlepas dari sosial tetapi dapat menyatu dan memiliki timbal balik yang apik dalam mendukung. Kegiatan perekonomian berkembang dari usaha yang hanya mementingkan profit sebesar-besarnya menjadi sinergi antara kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Hal ini dapat dilihat ketika seluruh peserta diberikan clue untuk dapat menghubungkan antara kecap bango dan candi. Seluruh peserta hening. Memang market share terbesar kecap pada awalnya adalah ABC tetapi semenjak kecap bango masuk kedalam pasar hal ini mendapat reaksi positif dari pasar. Alasannya adanya kepedulian kecap bango terhadap tradisi kuliner nusantara yaitu dengan mengadakan “Bango cita rasa nusantara” melalui kegiatan festival makanan dan sampai saat ini kegiatan ini menjadi even tahunan disetiap daerah dan pemda daerah berlomba-lomba mengemas acara ini menjadi festival kuliner dalam menarik wisatawan hadir dan berkunjung. Alhasil produk shere yang digunakan penjual makanan yang mengunakan base kecap bango memberikan kontribusi dalam mempengaruhi masyarakat untuk menjadikan sebagai pilihan dalam memilih produk. Lalu hubungan dengan candi ternyata ada dalam candi terdapat relief masyarakat dalam memasak semur dan salah satu bahan yang digunakan dalam olahan semur adalah kecap. Jadi hubungannya kecap merupakan makanan nusantara dan sudah semestinya pengusaha kecap mempertahankan dan menjaga tradisi.
Pemateri Seminar Bizcamp


Suasana Seminar di GC FT UNNES

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan materi meraih materi dan mimpi mengunakan teknik Coaching. Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan penyampaian materi  keterampilan dasar dalam berkomunikasi dan mwnjadi coach yang baik yaitu dengan cara mebangun hubungan yang baik, menjadi pendengar yang aktif, dan bertanya. penjelasan menjalin hunungan yang baik dapat dikelompokan menjadi dua yaitu mencari topik dan bercermin. Mencari topik dimaksudkan adalah memberikan awalan percakapan dengan tema dan topik yang sesuai dengan pribadi seseorang yang kita ajak untuk berbicara. Pemilihan topik diutamakan yang berkaitan langsung dengan diri, minat, kesukaan, pasion dan ketertarikan dengan suatu hal. Sedangkan bercermin kegiatan ini lebih mirip pada neurolinguistik programing ( Matching and mirroring) atau penjelasan lebih khususnya adalah menyamakan gerak dan mimik lawan bicara yang sedang kita hadapi. Kedua adalah mendengarkan aktif yaitu proses dimana coach menjadi pendengar yang baik dan memberikan keleluasaan lawan bicara dalam mengungkapkan pendapat, dalam proses ini ada beberapa tipe yang digunakan seperti meniru, mengulangi, dan mengubungkan. Ketiga adalah bertanya dalam kegiatan bertanya kita dapat mengunakan teknik Grow (Goal, reallity, Option, dan Way Forward). Dalam pemberian materi kegiatan juga dilakukan secara langsung artinya semua  mahasiswa terlibat dan langsung praktek cara coaching yang baik.


Goodybag &Sertifikat

Okay terima kasih Fakultas Teknik UNNES dan PMBS,
Semoga tahun depan PMBS datang lagi ke UNNES
Bungkus Kado dari Kampung Inggris Pare, begitulah sepenggal cerita dari pengalaman saya,

Selalu ada cara untuk menolak berngkat ke pare, begitulah awal ketika beberapa teman saya dengan semangatnya mengajak sekaligus mempromosikan kampung inggris di Pare Kediri.Saat itu  saya berpikir untuk tetap tinggal di Semarang karena saya berpikir untuk belajar bahasa inggris tidak harus sejauh pergi ke Jawa Timur.

Memang kalau boleh jujur sebenarnya dalam hati saya memang ingin belajar ke pare ini dikarenakan cerita dari kakak kelas dan teman-teman yang sudah pernah tinggal dan belajar dikampung inggris begitu menyenangkan dan memotivasi. Apalagi ketika saat mereka menceritakan tentang kehidupan masyarakat pare, kondisi kampung inggris yag kondusif, religinya masyarakat jawa timur, serta tempat-tempat menarik dan wisata di sekitar Pare membuat saya ingin sekali merasakan tinggal dan belajar disana. Dorongan besar karena saya sendiri sangat tertarik dengan kehidupan sosial dan budaya. Apalagi sempat mendapat dukungan dari beberapa dosen yang pernah belajar disana dan beberapa diantaranya mendapatkan beasiswa full study maupun short course. Wah siapa yang tidak pengen … yah mungkin saya bisa menyimpulkan bahwa strategi marketing dan pengemasan cerita tentang kampung inggris mengena dihati saya tetapi karena tabungan sudah habis dan tidak ada uang yang tersisa saya memutuskan untuk menunda berangkat ke pare.

Sebenarnya orang tua mendukung untuk berangkat ke pare tetapi bagi saya itu terlalu merepotkan . Hal ini dikarenakan masih banyak keperluan keuangan keluarga yang banyak seperti pendelegasian adik dalam OSN, ataupun kakak yang harus mengambil program profesi di Yogyakarta. Mungkin jika ada uang saat itu saya lebih memilih untuk ditabung saja dari pada ke pare tapi lagi-lagi motivasi besar untuk datang dan niat belajar sangat tinggi. Insyallah saya percaya “Selama ada kemauan pasti ada jalan”.

Sejenak saya berpikir untuk pergi ke pare kita harus mengeluarkan uang beserta cadangan senilai 1.5 jutaan itupun untuk keperluan hanya 1 Bulan, uang segitu mungkin cukup banyak tetapi saya masih  punya keinginan untuk belajar dibandingkan harus liburan di rumah ataupun rumah kakek. Saya bongkar isi lemari mencari koin ataupun lembar seribuan ataupun uang yang tersisa. Di bawah kasur, di bawah lemari, di dalam celana jeans, kaleng tabungan kecil, di dalam tas hingga keseluruhan terkumpul 125 ribu angka yang masih jauh dari target 1.5 juta.
Hampir putus asa sempat berpikir apa tahun depan saya ke pare atau sudahlah memang saya terima kondisi ini. Dalam hati saya berkata “andaikan ada uang pasti saya berangkat ke pare”,  Sambil mengistirahatkan badan saya berpikir “ah mungkin ini belum rejekinya”. Saya menutup hari dengan beristirahat karena keesokan hari merupakan hari terakhir ujian akhir semester di kampus.
Pagi harinya saya terbangun dan membaca 2 sms yang masuk di inbox “ uang hasil penelitian sudah ada saudara dapat mengambil di fakultas”, 5 menit kemudian “yosi, uang juara duta kampus sudah ada tolong diambil di mas yatna info dari rektorat”.
Bersama Teman-teman Satu kampus

Wah syukur alhamdulilah dana sisa penelitian dan uang kejuaraan bisa dipakai untuk belajar ke pare ini, dan ke putusannya akhirnya saya berangkat. Pare let’s get rocking. Selang 1 minggu di pare sms yang indah pun datang kembali “ Uang Pencairan beasiswa PPA sudah dapat dicek melalui rekening masing-masing”. Terima kasih ya Allah “Selalu ada jalan bagi orang yang berusaha dan tawakal”.


Kalau begini ceritanya selain saih memiliki tabungan saya bisa mampir ketempat kawan saya di malang sekaligus melihat indahnya Bromo . Semangat
Apa yang terpikirkan saudara jika mendengar kampung inggris pare? Patinya akan menebak bahwa tempat ini merupakan kampung/ desa yang keseluruhan warganya mengunakan bahasa Inggris. Benarkah seperti itu?
Jawabannya bisa iya tetapi juga bisa tidak, lhoh kok bisa begitu? Penjelasan lebih jelasnya adalah kampung inggris merupakan julukan bagi desa Tulungrejo Pare Kediri dan kawasan sekitarnya yang banyak memiliki tempat kursus khususnya bahasa inggris. Kampung inggris ini menyediakan lebih dari 100 lembaga kursus yang berbeda mulai dari lembaga kursus yang punya ratusan siswa sampai yang berjumlah belasan semuanya ada disini, bahkan lembaga kursus di kampung inggris tidak hanya menyediakan kursus bahasa Inggris tetapi juga bahasa Arab, korea, mandarin,  belanda dan kursus komputer. Lembaga Kursus sendiri ada yang berumur puluhan tahun seperti BEC yang sudah memiliki banyak alumni sampai yang baru tahu 2013an membuka kursus. Saya sendiri menghabiskan 1 bulan belajar bahasa inggris ditempat ini dan atmosfer yang saya rasakan benar-benar really good. Pemilihan lembaga kursus pun bervariatif mulai dari yang bertarip 35 ribu/ 2 minggu sampai yang 1 jt an/ bulan. Lhoh kok ada yang semahal itu bukankah kampung inggris tempat belajar yang murah? Sebenarnya yang bertarif mahal itu hanya 1 dari puluhan yang ada. Saya sendiri menghabiskan beberapa di lembaga kursus yang 100 ribuan per kursus dan itu sehari bisa 3-4 kelas. Murah bukan? Bandingkan jika saya kursus bahasa inggris di Semarang yang mungkin bisa 10 kali dan pertemuannya seminggu cuma 2 kali. Sedangkan disini kita bisa pilih kursus sesuka hati, sesuai kebutuhan dan sesuai kemampuan. 
Okay Untuk cerita itu saya akan sambung di Part selanjutnya ya… untuk kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya dari Semarang menuju kampung inggris di pare dan kenapa musti belajar bahasa inggris disana.
Ceritanya berawal dari teman-teman yang ingin menghabiskan waktu liburan utuk belajar. Yah bisa dibilang kita memang anak-anak  amazing  yang ada dikampus. Sebenarnya lebih tepatnya dari pada kita nganggur di rumah atau kost tanpa melakukan kegiatan yang bermakna. Selain itu ini merupakan pelarian diri dari berbagai aktivitas kampus yang menumpuk dan merayap sebagai anak organisasi kampus jadi ada waktu sejenak untuk bisa rehat dan memulihkan semangat. Saat itu kita bersepuluh berencana untuk berangkat dari Semarang, awalnya saya sebenarnya malas untuk berangkat tapi karena “kondisi” saya akhirnya memutuskan untuk berangkat. selain itu kemampuna untuk bisa berbahasa Inggris merupakan kebutuhan yang tidak mungkin untuk ditinggalkan di zaman yang semakin menglobal ini. jadi beragkatlah kita.
Sebenarnya ada beberapa alternatif untuk mencapai kampung Inggris dari Semarang
  1. Jalur Kereta Api, jalur ini bisa kita tempuh melalui kereta api majapahit Ekonomi AC Malang-Jakarta melalui stasiun besat tawang semarang atau kereta api Matarmaja ekonomi yang lebih murah harganya dengan stasiun Poncol sebagai titik awalnya. Jika mengunakan kereta api kita harus turun di stasiun kediri dilanjutkan dengan naik becak ditempat pemberhentian bus/ angkot menuju kediri lalu dilanjutkan perjalanan dan kenek bus akan bilang mahesa turun atau BEC turun berarti kita harus turun. BEC/Mahesa adalah tempat kursus yang tua dan cukup dikenal oleh masyarakat yang menandakan kita sudah sampai dikampung inggris.
  2. Bus, jalur ini biasa dilayani oleh Bus Mira Semarang-Surabaya via Solo atau bisa naik Bus taruna Semarang-Solo turun di terminal tirtonadi dan berganti dengan bus mira/eka Jogja-Surabaya dan turun di Jombang sehabis itu kita angot menuju pare.
  3. kendaraan pribadi menuju langsung pare. Kita pus bisa motong jalan lewat Salatiga-Sragen dan nganjuk-pare. Dengan pemandangan dan hampara sawah yang mempesona.
Berangkat bersama teman-teman

Berangkat ke Pare

Pada akhirnya kita berangkat dengan mobilnya tbi yang siap mengantar kita ke pare, ini dengan alasan jika kereta, semua kereta berangkat dari semarang pukul 11 malam dan sampai Kediri pagi. Sedangkan untuk bus kita repot naik turun jadi kita bawa kendaraan pribadi tbi yang siap mengantar kita. Tapi saran saya bagi kawan-kawan yang punya jiwa backpacker naik kendaraan umum akan menjadi tantangan tersendiri. 

Semoga membantu perjalanan kawan-kawan menuju kampung inggris di pare kediri.