Dini hari saat selesai membaca buku untuk keperluan skripsi, disaat itu saya mulai termenung dan ingat jika selama ini saya mempunyai blog 
Benar blog merupakan layanan menulis yang sangat banyak dibaca oleh pengguna internet, kecanggihan sistem informasi dan komunikasi membuat Blog menjadi media yang penyebarannya sangat cepat. Masih ingat awal 2008 ketika pertama kali membuat blog hanya karena alasan "punya-punyaan" dan ingin terlihat yang penting punya blog. jadi kalau ditanya "punya bloglah" padahal selang beberapa tahun blog tidak pernah terurus dan di telantarkan. sungguh malang blog ini. memang pada awal dulu ketika masih SMA saya menganngap, ah kenapa harus punya blog? toh isinya paling juga curhat dan isi diary yang tidak penting, alasan itu  pudar seiring berkembangnya informasi dan fungsi blog, ini karena makin banyak penulis yang inspiratif lahir dari media menulis blog. sebut saja tulisan "Notes Form Qatar" yang sempat dibukukan  menjadi best seller dan memanuhi keranjang pembeli di toko buku. hingga tulisan dari penulis inovator "Yoris Sebastian" yang menjadikan tulisan didunia maya sebagai awal dalam menebar inspirasi. Sungguh ternyata hal kecil yang kita tulis mampu melahirkan inspirasi dan effek terhadap orang lain. jadi memang niat menulis diblog tidak semata-mata karena kita ingin eksis atau mendapat pengakuan tapi lebih khususnya memberikan kontribusi informasi dan pengatuan kepada pembaca. Zaman sudah berganti sudah saatnya kita mengoptimalkan pengunaan media untuk keberanfaatan orang lain. selamat menulis...selamat menjadi bloger yang inspiratiF 
Ini adalah salah satu catatan dari kawan saya yang luar biasa, arena bayu chandra sekarang beliau sedang menimba ilmu di universitas diponegoro semarang , beliau adalah salah satu orang yang luar biasa, menurut saya, dan catatan ini sering membuat saya tersenyum saat menjalani masa SMA , di salah satu sekolah tertua di Kudus Jawa Tengah, SMA 1 KUDUS.


Banyak cara untuk mengekspresikan kerinduan seseorang kepada sesuatu, salah satunya yaitu dengan menulis. Meskipun kurang efektif untuk sebagian orang, tetapi saya percaya bahwa orang-orang yang saya maksudkan di tulisan ini termasuk yang sebagian lainnya. Menurut saya, tulisan bisa lebih menceritakan daripada sebuah gambar bahkan video sekalipun. Tetapi yang paling penting, saya sendiri dapat menikmati proses ketika saya memilah-milah kata agar sesuai dengan isi tulisan yang sedang dibuat.
Kembali ke topik utama, lewat tulisan ini saya ingin mengekspresikan kerinduan terhadap saudara-saudara saya, sebuah tim hebat yang berjudul extremo 89. Bukan lewat deskripsi tentang kekhasan anggotanya masing-masing, saya mencoba menceritakannya lewat sudut pandang lain, lewat sebuah komputer pojok yang terletak di ruangan yang juga pojok.
 Komputer ini berwarna putih dengan kombinasi biru pada CPU-nya, terletak di sebelah timur pojok kiri ruangan tercinta kami waktu itu. Saya tidak ingat lagi spesifikasinya, tapi kira-kira prosesornya tidak lebih dari pentium III. Saya juga masih ingat betapa stresnya orang-orang ketika harus menggunakan komputer ini karena proses loading-nya yang begitu lemot (bahkan untuk menyambungkan flashdisk butuk waktu lebih dari lima menit). Oleh karena sifatnya yang seperti itu, maka komputer ini sering menjadi korban emosi beberapa orang, termasuk saya dan teman-teman lainnya yang tidak sabaran. Meskipun begitu, benda ini merupakan rekan kerja yang sangat setia dan selalu kami andalkan (mengingat waktu itu belum banyak orang yang membawa laptop). Di dalamnya berisi ratusan atau mungkin ribuan file tentang contoh format proposal, surat dan data-data penting lainnya. Berfolder-folder gambar yang merupakanhasil kenarsisan kami juga tersimpan disana, bahkan menjadi wallpaper desktop  selama hampir satu tahun. Selain itu, sejumlah lagu-lagu juga tidak kalah banyak tersimpan secara acak disana. Pada masa awal kepengurusan kami, lagu dear god-nya Avenged Sevenfold merupakan lagu favorit, kemudian disusul juga lagu-lagu dari D'massive, Saosin dan band-band lainnya yang sudah tidak mampu lagi saya ingat. Lewat speaker putih yang terletak di sebelah kanan komputer, lagu-lagu yang menjadi favorit hampir tiap hari diputar untuk menemani hari-hari menjenuhkan --tetapi juga merindukan-- kami. Meskipun kualitas suara yang keluar dari speaker tersebut jauh di bawah standar, toh tidak menghalangikami untuk ikut bernyanyi dengan suara kami yang juga di bawah standar.
Komputer ini juga ditemani dengan sebuah printer yang selalu rusak, terletak di sebelah kanannya. Saya sendiri lupa printer ini ber-merk apa, kalau tidak Canon mungkin Hewlett-Packard. Kerusakan terakhir printer ini yang membuatnya tidak pernah dipakai lagi adalah kesalahan teman saya. Mungkin ini tidak banyak yang tahu, karena merupakan suatu rahasia. Ceritanya begini, teman saya yang berinisial MDP bermaksud mengisi tinta printer ini, namun karena suatu hal, dia akhirnya tertukar mengisi tinta warna merah dan warna kuning, hal inilah yang menyebabkan kerusakan terkahir printer tersebut. Setelah kejadian tersebut, kami pun cukup direpotkan ketika harus mencetak suatu surat atau proposal. Agar proses cetak-mencetak tadi tetap terlaksana, kami harus rela bolak-balik ke ruang TU maupun perpustakaan lantai dua. Bahkan saya pernah diminta untuk membuatkan akun facebook  oleh salah seorang guru ketika sedang mencetak sebuah surat di kantor TU.
tempat dimana komputer, speaker dan printer ini adalah sebuah ruangan yang juga terletak di pojok bagian depan dari sekolah kami waktu itu. Ruangan ini tidak pernah terlihat bersih ketika masa kepengurusan kami. Walaupun tugas piket kebersihan pernah dibuat, itupun tidak membuat kebersihan ruangan ini terjaga. Selalu saja sampah-sampah kertas dari hasil salah cetak atau lainnya berserakan dimana-mana. Tetapi meski begitu, ruangan ini pernah menjadi rumah kedua kami selama hampir satu tahun. Disana kami pernah tertawa terbahak-bahak bersama, bertengkar, menangis, bercanda, tidur, bahkan membolos bersama. Kenakalan masa SMA yang tidak mungkin bisa terlupa.
Suasana di tempat kesayangan kami ini juga begitu khas, saya masih bisa membayangkan rasanya semilir angin panas dari kipas angin berwarna biru yang tergantung di langit-langit. Saya juga masih dapat membayangkan berjejer-jejer tropi dan piala yang diletakkan diatas rak dibawah sterofoam berwarna hijau berisi nama-nama kami di dinding bagian selatan. Denah meja juga hampir selalu begitu, berbentuk letter U selama hampir satu tahun. Jika mejanya belum diganti, maka di salah satu meja akan dapat ditemukan dua buah retakan agak besar. Itulah hasil karya saya ketika malam pembuatan laporan pertanggung jawaban, dengan emosi penuh sebuah tendangan pernah mendarat disana.
 Yang saya dengar sekarang, komputer dan ruangan ini telah banyak berubah. Kalau tidak salah, sang komputer sudah tidak dipakai lagi karena pihak sekolah membelikan laptop. Sebuah air conditioner juga sudah dipasang agar penghuni-penghuni baru terasa nyaman. Namun begitu, kami akan tetap merindukan ruangan kami yang dulu, ruangan kotor panas yang selalu memunculkan ide-ide brilian. Sebuah ruangan dimana kita dipersatukan. Sebuah ruangan dimana membentuk kita sebagai satu keluarga. Extremo 89.
Tulisan ini dibuat untuk : Extremo 89, yos, fas, err, dekla, nun, yen, aya, we', nar, tor, ah, mbul, ya', run dan fu'.
Saya baru sadar betapa eratnya kekeluargaan kita setelah semua ini kita lalui, mungkin tidak ada keluarga lain yang seperti ini, keluarga yang harus melakukan perpisahan sebanyak tiga kali sebelum anggotanya pergi ke rantauannya masing-masing.
biarkan ideologimu mengalir seperti adanya
biarkan sifat mudamu menerobos sumsum teikatmu
biarkan kau kejar harapan dan impian itu
tembaklah bulan jika tidak berhasil kau akan jatuh diantara bintang-bintang
dan percayalah sekalipun bintang itu redup
kelak bintang itu akan bercahaya penuh
karena cahaya dari dirimulah yang akan meneranginya
menerangi hingga bulan akan berganti sabit
karena kebebasan hanya sebuah angin serampang
karena sebuah perdebatan dewa hujan tak setetes pun air jatuh
semua berkata, semua bertanya
pahamkah dirimu..
kenapa tidak menanyakan siapa kau..
bukankah itu lebih baik dari sekedar bertanya kenapa kau terlambat?
saya ingin tahu kenapa saya ada
karena dengan mengenal saya
saya bisa menempatkan saya sebagai saya