Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Menulis..., yah menulis adalah kegiatan yang menyenangkan karena dengan menulis kita dapat bebas dalam berekspresi dan menyampaikan ide kita kepada orang lain. Bahasa tulisan bisa disebut bahasa yang lebih halus dibanding secara verbal tetapi kekuatan yang timbul sangatlah dahsyat. Hal ini bisa kita temui dalam kegiatan sehari-hari khususnya bulan-bulan ini dimana Kampanye pilpres maupun hasil yang Quick count yang berbeda. hampir semua orang ingin mengabarkan berita yang ada melalui berbagai media baik audio, visual, maupun keduanya tetapi banyak diantara mereka yang banyak menuliskan mengena gagasan atau opini yang hanya berdasarkan pada keluh kesah mereka saja tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan kejadian sesungguhnya. Ini dapat kita lihat melalui perdebatan panjang di media sosial, banyak sekali dari mereka sangat fanatik terhadap calon dan pasangan masing-masing.


Memang menulis di media sosial bahkan Blog adalah kegiatan yang suka-suka dan terserah kita mau menulis apa dan mau dibawa pendapat kita, baik itu pendapat yang entah baik, opini yang entah fakta nya berujung dimana maupun gagasan yang sembarang menyadur tanpa mengetahui informasi. Sehingga pada akhirnya kita reaksi yang timbul dapat menimbulkan opini baru yang salah kaprah dan penyampaian informasi yang tidak karuan  (tidak jelas). kita yang hidup di era digital ini sudah dapat mengetahui bahwa kekuatan tulisan melalui internet sangatlah besar dalam mempengaruhi opini publik, Jika gagasan kita merupakan opini yang baik atau tulisan yang baik sudah tentu reaksi yang ditimbulkan juga baik. Tetap manakala opini yang kita berikan kurang sesuai dan tidak ada fakta yang jelas ini sudah menuju pencemaran nama baik maupun penyebaran isu hitam.

Sebagai seorang yang peduli terhadap blog, saya sadar bahwa menyatakan kebebasan opini maupun pendapat di khalayak umum melalui media blog sangatlah sah-sah saja. tetapi akan lebih baiknya jika dalam menulis kita masih menjaga etika dan tutur sopan santun dalam menulis. mengcopy paste dari sumber yang kurang jelas saja sudah menurunkan etika kita sebagai blogger apalagi mengcopy sekaligus menjelek-jelekkan orang lain.

Mari kita menjadi blogger yang cerdas dan beretika.
Bungkus Kado dari Kampung Inggris Pare, begitulah sepenggal cerita dari pengalaman saya,

Selalu ada cara untuk menolak berngkat ke pare, begitulah awal ketika beberapa teman saya dengan semangatnya mengajak sekaligus mempromosikan kampung inggris di Pare Kediri.Saat itu  saya berpikir untuk tetap tinggal di Semarang karena saya berpikir untuk belajar bahasa inggris tidak harus sejauh pergi ke Jawa Timur.

Memang kalau boleh jujur sebenarnya dalam hati saya memang ingin belajar ke pare ini dikarenakan cerita dari kakak kelas dan teman-teman yang sudah pernah tinggal dan belajar dikampung inggris begitu menyenangkan dan memotivasi. Apalagi ketika saat mereka menceritakan tentang kehidupan masyarakat pare, kondisi kampung inggris yag kondusif, religinya masyarakat jawa timur, serta tempat-tempat menarik dan wisata di sekitar Pare membuat saya ingin sekali merasakan tinggal dan belajar disana. Dorongan besar karena saya sendiri sangat tertarik dengan kehidupan sosial dan budaya. Apalagi sempat mendapat dukungan dari beberapa dosen yang pernah belajar disana dan beberapa diantaranya mendapatkan beasiswa full study maupun short course. Wah siapa yang tidak pengen … yah mungkin saya bisa menyimpulkan bahwa strategi marketing dan pengemasan cerita tentang kampung inggris mengena dihati saya tetapi karena tabungan sudah habis dan tidak ada uang yang tersisa saya memutuskan untuk menunda berangkat ke pare.

Sebenarnya orang tua mendukung untuk berangkat ke pare tetapi bagi saya itu terlalu merepotkan . Hal ini dikarenakan masih banyak keperluan keuangan keluarga yang banyak seperti pendelegasian adik dalam OSN, ataupun kakak yang harus mengambil program profesi di Yogyakarta. Mungkin jika ada uang saat itu saya lebih memilih untuk ditabung saja dari pada ke pare tapi lagi-lagi motivasi besar untuk datang dan niat belajar sangat tinggi. Insyallah saya percaya “Selama ada kemauan pasti ada jalan”.

Sejenak saya berpikir untuk pergi ke pare kita harus mengeluarkan uang beserta cadangan senilai 1.5 jutaan itupun untuk keperluan hanya 1 Bulan, uang segitu mungkin cukup banyak tetapi saya masih  punya keinginan untuk belajar dibandingkan harus liburan di rumah ataupun rumah kakek. Saya bongkar isi lemari mencari koin ataupun lembar seribuan ataupun uang yang tersisa. Di bawah kasur, di bawah lemari, di dalam celana jeans, kaleng tabungan kecil, di dalam tas hingga keseluruhan terkumpul 125 ribu angka yang masih jauh dari target 1.5 juta.
Hampir putus asa sempat berpikir apa tahun depan saya ke pare atau sudahlah memang saya terima kondisi ini. Dalam hati saya berkata “andaikan ada uang pasti saya berangkat ke pare”,  Sambil mengistirahatkan badan saya berpikir “ah mungkin ini belum rejekinya”. Saya menutup hari dengan beristirahat karena keesokan hari merupakan hari terakhir ujian akhir semester di kampus.
Pagi harinya saya terbangun dan membaca 2 sms yang masuk di inbox “ uang hasil penelitian sudah ada saudara dapat mengambil di fakultas”, 5 menit kemudian “yosi, uang juara duta kampus sudah ada tolong diambil di mas yatna info dari rektorat”.
Bersama Teman-teman Satu kampus

Wah syukur alhamdulilah dana sisa penelitian dan uang kejuaraan bisa dipakai untuk belajar ke pare ini, dan ke putusannya akhirnya saya berangkat. Pare let’s get rocking. Selang 1 minggu di pare sms yang indah pun datang kembali “ Uang Pencairan beasiswa PPA sudah dapat dicek melalui rekening masing-masing”. Terima kasih ya Allah “Selalu ada jalan bagi orang yang berusaha dan tawakal”.


Kalau begini ceritanya selain saih memiliki tabungan saya bisa mampir ketempat kawan saya di malang sekaligus melihat indahnya Bromo . Semangat
Apa yang terpikirkan saudara jika mendengar kampung inggris pare? Patinya akan menebak bahwa tempat ini merupakan kampung/ desa yang keseluruhan warganya mengunakan bahasa Inggris. Benarkah seperti itu?
Jawabannya bisa iya tetapi juga bisa tidak, lhoh kok bisa begitu? Penjelasan lebih jelasnya adalah kampung inggris merupakan julukan bagi desa Tulungrejo Pare Kediri dan kawasan sekitarnya yang banyak memiliki tempat kursus khususnya bahasa inggris. Kampung inggris ini menyediakan lebih dari 100 lembaga kursus yang berbeda mulai dari lembaga kursus yang punya ratusan siswa sampai yang berjumlah belasan semuanya ada disini, bahkan lembaga kursus di kampung inggris tidak hanya menyediakan kursus bahasa Inggris tetapi juga bahasa Arab, korea, mandarin,  belanda dan kursus komputer. Lembaga Kursus sendiri ada yang berumur puluhan tahun seperti BEC yang sudah memiliki banyak alumni sampai yang baru tahu 2013an membuka kursus. Saya sendiri menghabiskan 1 bulan belajar bahasa inggris ditempat ini dan atmosfer yang saya rasakan benar-benar really good. Pemilihan lembaga kursus pun bervariatif mulai dari yang bertarip 35 ribu/ 2 minggu sampai yang 1 jt an/ bulan. Lhoh kok ada yang semahal itu bukankah kampung inggris tempat belajar yang murah? Sebenarnya yang bertarif mahal itu hanya 1 dari puluhan yang ada. Saya sendiri menghabiskan beberapa di lembaga kursus yang 100 ribuan per kursus dan itu sehari bisa 3-4 kelas. Murah bukan? Bandingkan jika saya kursus bahasa inggris di Semarang yang mungkin bisa 10 kali dan pertemuannya seminggu cuma 2 kali. Sedangkan disini kita bisa pilih kursus sesuka hati, sesuai kebutuhan dan sesuai kemampuan. 
Okay Untuk cerita itu saya akan sambung di Part selanjutnya ya… untuk kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya dari Semarang menuju kampung inggris di pare dan kenapa musti belajar bahasa inggris disana.
Ceritanya berawal dari teman-teman yang ingin menghabiskan waktu liburan utuk belajar. Yah bisa dibilang kita memang anak-anak  amazing  yang ada dikampus. Sebenarnya lebih tepatnya dari pada kita nganggur di rumah atau kost tanpa melakukan kegiatan yang bermakna. Selain itu ini merupakan pelarian diri dari berbagai aktivitas kampus yang menumpuk dan merayap sebagai anak organisasi kampus jadi ada waktu sejenak untuk bisa rehat dan memulihkan semangat. Saat itu kita bersepuluh berencana untuk berangkat dari Semarang, awalnya saya sebenarnya malas untuk berangkat tapi karena “kondisi” saya akhirnya memutuskan untuk berangkat. selain itu kemampuna untuk bisa berbahasa Inggris merupakan kebutuhan yang tidak mungkin untuk ditinggalkan di zaman yang semakin menglobal ini. jadi beragkatlah kita.
Sebenarnya ada beberapa alternatif untuk mencapai kampung Inggris dari Semarang
  1. Jalur Kereta Api, jalur ini bisa kita tempuh melalui kereta api majapahit Ekonomi AC Malang-Jakarta melalui stasiun besat tawang semarang atau kereta api Matarmaja ekonomi yang lebih murah harganya dengan stasiun Poncol sebagai titik awalnya. Jika mengunakan kereta api kita harus turun di stasiun kediri dilanjutkan dengan naik becak ditempat pemberhentian bus/ angkot menuju kediri lalu dilanjutkan perjalanan dan kenek bus akan bilang mahesa turun atau BEC turun berarti kita harus turun. BEC/Mahesa adalah tempat kursus yang tua dan cukup dikenal oleh masyarakat yang menandakan kita sudah sampai dikampung inggris.
  2. Bus, jalur ini biasa dilayani oleh Bus Mira Semarang-Surabaya via Solo atau bisa naik Bus taruna Semarang-Solo turun di terminal tirtonadi dan berganti dengan bus mira/eka Jogja-Surabaya dan turun di Jombang sehabis itu kita angot menuju pare.
  3. kendaraan pribadi menuju langsung pare. Kita pus bisa motong jalan lewat Salatiga-Sragen dan nganjuk-pare. Dengan pemandangan dan hampara sawah yang mempesona.
Berangkat bersama teman-teman

Berangkat ke Pare

Pada akhirnya kita berangkat dengan mobilnya tbi yang siap mengantar kita ke pare, ini dengan alasan jika kereta, semua kereta berangkat dari semarang pukul 11 malam dan sampai Kediri pagi. Sedangkan untuk bus kita repot naik turun jadi kita bawa kendaraan pribadi tbi yang siap mengantar kita. Tapi saran saya bagi kawan-kawan yang punya jiwa backpacker naik kendaraan umum akan menjadi tantangan tersendiri. 

Semoga membantu perjalanan kawan-kawan menuju kampung inggris di pare kediri. 


Pemilihan mahasiswa berprestasi UNNES sudah dimulai
Jadwal Kegiatan bisa klik disini
sedangkan untuk pedoman bisa klik disini 



Kenangan tahun lalu bersama teman-teman yang luar biasa agus, devia, bunga, arif, agam, raeni, zaka


Perjalanan menempuh seleksi mahasiswa berprestasi kategori PGSD Indonesia bermula disini, malam hari saya mendapat telpon dari mas Galih yang merupakan kakak tingkat dikampus. Mas Galih adalah salah satu pengurus IKMA PGSD (Ikatan Mahasiswa PGSD Indonesia) organisasi asosiasi mahasiswa PGSD Se-Nusantara.
Saat malam hari telfon, kalau tidak salah kondisinya saat itu saya baru pulang dari kampus dengan kegiatan yang cukup capek. Singkat cerita mas galih memberitahu untuk mengunduh file kelengkapan dan format dengan berbagai macam bentuk dan berkas yang kesemuanya ribet. waduh tambah capek dengan estimasi waktu 5 hari dan sudah di kirim kepada panitia Universitas Pendidikan Indonesia bandung.
Banyak berkas yang harus dipersiapkan seperti karya tulis ilmiah, abstrak dan ringkasan baik dalam bahasa inggris maupun Indonesia. selanjutnya adalah piagam kejuaraan baik dari tingkat universitas sampai tingkat nasional/ internasional. Piagam atau sertifikat pendukung lain yang perlu dipersiapkan adalah sertifikat seminar (baik yang berada ditingkat jurusan sampai Internasional), seminar pelatihan/ workshop/ training dan sertifikat kepanitiaan dalam organisasi baik ekstra maupun intrakulikuler.
Kesemua berkas sudah harus dijilid rapi dan dikirim tepat pada waktunya. wah jika sampai telat bisa terkena diskualifikasi atau pengurangan nilai.
Berkas yang dikumpulkan yang banyak ditambah waktu persiapan yang mepet membuat saya harus rela pontang panting belum untuk mendapatkan pengesahan dari birokrat yang harus warawiri. Lima hari masa persiapan dan pengiriman saya lakukan dengan full energy yang ada. Ini dikarenakan pesan dan amanah yang khusus dari Mas galih yang menghendaki saya untuk total.

Logo IKMA PGSD INDONESIA
Even Serupa juga pernah diadakan ikatan mahasiswa PGSD yang pada mulanya hanya berdomisili dan berkegiatan diseputar jawa. Even pemilihan mahasiswa berprestasi PGSD Indonesia merupakan pengembangan lebih lebih luas dari even serupa dua tahun lalu. yaitu mahasiswa berprestasi PGSD Se-Jawa. Dilihat dari nama dan tagline saja kita sudah tahu yaitu kometisi pemilihan mahasiswa berprestasi PGSD di kawasan pulau Jawa, kenapa demikian bukankah PGSD hampir berada diseluruh kawasan di Indonesia dengan rentang Sabang sampai Merauke? Jawabannya adalah karena awal mula pendirian status program studi PGSD S1 yang merupakan peralihan dari D2 baru dimulai tahun 2006/2007, kegiatan kemahasiswaan belum sepenuhnya berjalan penuh, universitas yang baru membuka prodi ini pun hanya beberapa khususnya kampus eks IKIP yang mempunyai basis keilmuan dibidang pendidikan dan universitas dengan fakultas keguruan yang sudah lama punya ketersediaan komponen yang mendukung pembukaan program studi ini. Atas dasar keinginan untuk maju beberapa delegasi kampus membuat kegiatan dan perhimpunan bersama yang bermula dari kampus-kampus dijawa, lalu seiring berkembangnya prodi dan keterjangkaun informasi maka berdirilah IKMA PGSD yang diselengarakan kongres nasional di UM Malang. (mohon dikoreksi jika ada kesalahan tentang sejarah IKMA teman-teman :))


Okay, lanjut cerita setelah berletih-letih akhirnya..... "Sebendel Map Cokelat" sudah siap saya kirim dan jilid rapi...
sudah bertuliskan sekertariat panitia pemilihan Mawapres PGSD Indonesia, Univ Pendidikan Indonesia jl setia budi bandung...
H-1 deadline dan semua baru rampung pukul 5 sorean jadi langsung berangkat ke kantor J*E di dekat markas Golkal Semarang yang memastikan saya bahwa kiriman bisa sampai tepat waktu...
huuh...selamat

dan terkirimlah saatnya menunggu apakah saya lolos masuk 10 besar... kita tunggu ceritanya
bersambung part 2




TIPS GUE JADI PENYIAR RADIO
Di setiap kota besar dan menengah di Indonesia, ada puluhan ribu pelajar
seperti Anda yang ingin menjadi penyiar. Walaupun Anda sendiri tidak menyebutkan
kota dan minat Broadcastingnya (radio? televisi?) namun Dokter akan tetap
membekali Anda dan teman-teman seperjuangan dengan kiat & pengetahuan
yang penting utk diketahui.

Di tahun 80an, banyak radio kawula muda yang sengaja mempekerjakan para
pelajar SMA sebagai penyiar. Para penyiar muda ini malah dianjurkan untuk
tetap memakai seragam putih-abu2nya, agar para pendengar yang kebetulan
datang ke studio bisa melihat sendiri bahwa “radio ini gue banget!”

Di zaman sekarang, remaja punya banyak cara untuk memamerkan siapa
dirinya: warna rambutnya Sunset Red, merek tas sekolahnya Oakley,
handphone-nya Sony Walkman Phone, nongkrongnya di PIM-2, dst. Tetapi
di tahun 80an identitas remaja yang bisa dia tunjukkan pada dunia hanyalah
musik yang dia ketahui dan radio yang dia dengarkan. Dia mutlak tahu
lirik lagu terbaru dari Duran Duran, dan biasanya hafal nama semua penyiar
di radio2 terkondang. Hiburan selain radio dan bioskop? . Anda terbayang sebuah era tanpa Handphone, Computer, SMS, Friendster, E-mail, apalagi Internet?

Karena itu pula di zaman itu para pelajar malu jika tertangkap basah
mendengarkan radio kakaknya atau radio bapaknya. Semua pelajar saat itu
mengaku pendengar Prambors, dan sampai tahun 90an pun masih banyak
yang mengaku sama meskipun dia juga mendengarkan Radio ' A' atau
' B' FM. Sedangkan seorang pelajar SMA yang juga bekerja di sebuah
stasiun radio (seperti Fla TOFU di awal karirnya) adalah keistimewaan sekali.

Ini semua Dokter sampaikan agar Anda memahami fungsi dan esensi dari
Broadcasting:
1. Penyiar selalu (tanpa lelah, tanpa henti) berupaya menyengkan Audience-nya.
2. Radio (dan TV) mengudara atas dasar keinginan/pemikiran Audience-nya.
[Sponsor/Klien menjadi penting karena merekalah yang mendanai semuanya]

Dokter juga menceritakan ini untuk menggambarkan bahwa untuk menjadi
Penyiar di era sekarang ini lebih sulit karena Anda harus punya lebih dari
sekedar golden voice; Anda harus punya jiwa entertainer, harus mampu
berekspresi secara flexible, harus terdepan mengikuti segala trend lifestyle
& information, dan harus siap (tanpa cengeng, tanpa mengeluh) untuk tampil
di depan pendengar/penonton manapun untuk memenuhi keinginan Audience
dan klien yang membayar Anda.

Dari sini sebenarnya Anda bisa menarik kesimpulan tentang “Modal apa yang
harus disiapin untuk jadi Penyiar?”

Pertama, kita harus disiplinkan diri agar bisa selalu berusaha menghibur
Audience : jangan berfikir untuk jadi Penyiar jika Anda sulit menepati janji
dengan orang atau sering berganti mood setiap hari. Kalau Anda mengalami
kesulitan untuk mengendalikan ekspresi diri karena mood Anda mudah
berubah-ubah bagaikan cuaca, lebih baik Anda kerja di balik komputer
ketimbang di studio siaran.

Kedua, kita harus in-touch dengan apa yang sedang menjadi pusat perhatian
Audience kita; dengan kata lain, kita harusgaulseperti mereka. Kalau ingin
bekerja di radio otomotif, misalnya, biasakanlah diri dengan hobby mobil dan
motor. Jika ingin menjadi pembaca berita di Metro-TV, biasakanlah
mengkonsumsi berita setiap hari.

Ketiga, kita harus terbiasa disuruh-suruh sesuai tuntutan klien atau program.
Dalam prakteknya tuntutan ketiga ini sangat bervariasi, misalnya Anda :
Diberi jam siaran Minggu pagi, padahal Anda paling susah bangun pagi
Harus mewawancarai seseorang yang Anda sangat tidak suka
Dituntut memakai celana pendek saat jadi TV-host, padahal lutut Anda jelek
Diminta diet drastis karena setelah melahirkan koq terlihat gemuk di kamera
• Dan berbagai contoh yang terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu.

Dengan kata lain, kalau Anda merupakan tipe orang yang cenderung membantah
perintah atau setiap hari masih dibangunkan oleh Mama, maka sebaiknya Anda
kerja di bank sajaatau bikin perusahaan sendiri. Apalagi tugas sebagai
Penyiar menuntut Anda bisa memenuhi keinginan Audience, no matter what
the conditions and no matter who the Audience is.

Itulah tiga prasyarat yang menurut Dokter Penyiar harus dipenuhi sebelum Anda
dan siapa saja ingin mencoba menjadi seorang Penyiar (TV maupun Radio).
Semuanya berasal dari diri sendiri, dan mengingatkan kita bahwa sebelum
Stasiun TV/Radio atau Production House merekrut dan menseleksi Anda untuk
sebuah programnya, pastikanlah bahwa Anda sendiri sudah punya sikap mental
yang benar dan tangguh.

Mumpung Anda masih muda, Dokter mengusulkan untuk sekolah dulu untuk
mendapatkan ilmu dan nilai yang baik, karena nanti kalau sudah kuliah bakal
ada banyak kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa. Lagipula kalau
nilai SMA-nya bagus khan lebih mudah masuk ke Universitas pilihannya. Oh iya,
perluaslah pergaulan sejak SMA sekaligus untuk melatih kemampuan berinteraksi,
misalnya bicara dengan guru secara sopan & ramah, ngobrol dengan teman secara
gaul dan santai, dsb. Pengalaman dan keterampilan berinteraksi sejak SMA akan
memudahkan Agil mengembangkan kemampuannya sebagai Penyiar kelak.

Sebagaimana dijabarkan dalam pelatihan “Workshop@Penyiar.com”, keterampilan
di ruang siaran (membaca Teleprompter, penguasaan perangkat siaran) bisa
dipelajari di tempat Anda siaran kelak. Namun Dokter Penyiar mengingatkan
bahwa pembekalan mental juara itulah yang akan membuat Anda siap untuk jadi
seorang Broadcaster; bagaimanapun Audience-nya, bagaimanapun Program-nya,
bagaimanapun Klien-nya, dan bagaimanapun Boss-nya dalam karir Anda kelak.